Praktikum Farmakologi

Toksisitas & Penentuan LD50

Menu Navigasi

Toksikologi Dasar

Batas Keamanan Obat:
Menganalisis Toksisitas Akut.

Sesuai dengan adagium toksikologi Paracelsus: "Sola dosis facit venenum" (Hanya dosis yang membedakan racun dan obat). Anestesi Inhalasi merupakan agen farmakologis berupa gas yang sangat mudah menguap dengan indeks terapi yang amat sempit. Dalam eksperimen ini, kita membandingkan Dietil Eter dan Kloroform dengan menaikkan volume gas secara kumulatif hingga menimbulkan kematian pada hewan uji.

Karakteristik Obat Uji Praktikum

Anestesi Inhalasi: Eter vs Kloroform

Obat anestesi inhalasi bekerja berdasarkan Koefisien Partisi Darah/Gas. Semakin tinggi kelarutannya dalam lemak (Lipofilik), semakin cepat ia menembus otak, namun semakin tinggi pula daya toksisitasnya (berbahaya).

Dietil Eter

Farmakokinetik: Kelarutan dalam darah tinggi, menyebabkan Mula Kerja (Onset) lambat karena darah harus jenuh (terisi penuh) dulu sebelum molekul gas pindah membius jaringan otak.

Toksisitas: Margin keamanan relatif luas. Jarang menyebabkan depresi fatal mendadak. (LD50 Tinggi = Lebih Aman / Butuh banyak dosis untuk mematikan).
Kloroform

Farmakokinetik: Sangat lipofilik, Onset induksinya instan dan sangat cepat menembus jaringan saraf otak. Obat ini telah lama dilarang di dunia medis akibat sifat mematikannya.

Toksisitas: Sangat kardiotoksik (memicu aritmia jantung fatal mendadak) dan hepatotoksik. Margin keamanan amat sangat sempit. (LD50 Rendah = Sangat Toksik).

Jalur Farmakokinetik & Titik Letal (Toksisitas)

Bagaimana gas yang dihirup bisa menyebabkan kematian? Anestesi inhalasi masuk melalui pernapasan, berdifusi pasif menembus membran alveolus ke kapiler darah, lalu menembus Sawar Darah Otak (Blood-Brain Barrier/BBB). Kematian (Toksisitas Letal) terjadi seketika jika konsentrasi gas mendepresi Medula Oblongata di batang otak secara total.

Medula Normal
Alveolus Paru Sirkulasi Darah Sawar Darah Otak Korteks Otak Medula Oblongata Difusi Gas Lipofilik

4 Stadium Anestesi Guedel

Konsentrasi gas di otak meningkat seiring waktu di dalam chamber, mendepresi SSP secara progresif (dari korteks atas perlahan menuju ke medula bawah):

Stadium I: Analgesia

Sadar, namun rasa nyeri mulai hilang. Stadium menuju amnesia.

Stadium II: Eksitasi (Delirium)

Depresi korteks melepas hambatan motorik bawah sadar. Hewan memberontak hebat, pernapasan ireguler (Ataksia).

Stadium III: Anestesi Bedah

Tidur pulas, otot relaksasi penuh, hilang refleks balik badan. Pernapasan teratur. (Fase target pembedahan medis).

Stadium IV: Paralisis Medula (Letal)

Titik Uji Toksik (LD50): Konsentrasi gas berlebih melumpuhkan pusat saraf pernapasan & vasomotor di Medula Oblongata. Terjadi henti napas (apnea) disusul henti jantung.

Prosedur Kerja

Pengukuran batas keamanan obat inhalasi dilakukan dengan menaikkan konsentrasi gas secara bertahap (kumulatif) di dalam ruang tertutup hingga tercapai titik letal.

1

Persiapan Chamber (Beaker)

Siapkan *beaker glass* besar. Masukkan sepotong kapas ke dasarnya (sebagai media penguapan/volatilisasi cairan anestesi). Masukkan seekor mencit, lalu tutup rapat mulut beaker dengan selembar plastik yang diikat kuat dengan karet gelang agar gas sama sekali tidak bocor ke udara luar (Menciptakan Sistem Tertutup).

Penyuntikan Interval Berkala

Gunakan semprit tuberkulin (spuit 1cc). Suntikkan 0,2 ml cairan anestesi (Dietil Eter atau Kloroform) dengan cara menusuk menembus plastik penutup, arahkan tetesan agar jatuh tepat membasahi kapas di dasar beaker tanpa mengenai mencit langsung.

Observasi Stadium SSP

Mulai *stopwatch*. Amati secara visual tahapan depresi SSP (Fase Sadar → Ataksia/Eksitasi → Anestesi bedah/Tidur → Paralisis Medula/Koma). Catat menit ke-berapa efek anestesi penuh mulai timbul (ditandai dengan hilangnya refleks membalikkan badan).

Dosis Akumulatif & Titik Letal Akhir

Ulangi penyuntikan 0,2 ml SETIAP INTERVAL 5 MENIT. Teruskan akumulasi dosis ini hingga dada hewan tidak bergerak lagi (pernapasan terhenti / hewan mati). Catat total Volume Anestesi Kumulatif (ml) yang digunakan untuk perhitungan nilai Toksisitas (LD50) di akhir.

Simulator Penentuan Titik Letal (Chamber Anestesi)

Simulasikan eksperimen peningkatan konsentrasi gas dalam ruang tertutup. Tetesan obat ke kapas akan menguap dan dihirup mencit. Perhatikan perbedaan drastis kecepatan mencapai efek toksik (Paralisis Medula) antara Eter dan Kloroform.

Waktu Berlalu
00:00
Total Vol. Obat
0.0 ml
Status SSP (Stadium Guedel)
Stadium I: Sadar

Mencit bernapas normal di dalam chamber.

Kapas
Dalam praktikum riil, penambahan obat cair dilakukan bertahap (0.2 ml) menembus plastik ketat setiap 5 menit. Di sini, simulasi timer dipercepat.

Simulator & Analisis Komprehensif: Estimasi LD50 & Margin of Safety

Seringkali dalam percobaan biologi, persentase kematian hewan tidak pernah menunjukkan angka bulat persis 50% atau 90% pada satu titik dosis tertentu. Oleh karena itu, kita menggunakan alat analisis Interpolasi Logaritma-Linear untuk mengestimasi besaran LD50 di antara dua dosis terdekat yang mengapit data empiris.

Lethal Dose 50% (LD50):
Besaran dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diprediksi dapat membunuh tepat 50% populasi hewan uji. Semakin KECIL angka LD50, semakin TOKSIK zat tersebut.

Batas Keamanan (Margin of Safety):
Jarak matematis antara Dosis Terapi Median (ED50) dengan Dosis Letal Median (LD50). Anestesi inhalasi kloroform terkenal memiliki indeks terapi yang teramat sempit, sehingga sangat rentan menyebabkan overdosis jika takaran berlebih sedikit saja.

Rumus Statis: Interpolasi Log-Linear

Untuk mencari nilai LD50 atau LD90 secara manual dari data tabel pengamatan, gunakan rumus pendekatan linier pada skala logaritma berikut:

Log LD50 = Log Da + [ (50 - Pa) / (Pb - Pa) ] × (Log Db - Log Da)
  • Da Dosis di bawah 50% kematian
  • Pa Persentase kematian di titik Da
  • Db Dosis di atas 50% kematian
  • Pb Persentase kematian di titik Db

Tabel Raw Data (Kloroform)

Perhatikan tabel hasil uji toksisitas akut kloroform yang belum diolah di bawah ini. Titik mematikan 50% secara logika terletak mengambang di antara Dosis 30.000 mg/kg dan 50.000 mg/kg. Coba simulasikan angka tersebut di kalkulator!

Kelompok DosisLog DosisJumlah Mati% Kematian (Letalitas)
10.000 mg/kg4.0000 / 100%
20.000 mg/kg4.3011 / 1010%
30.000 mg/kg
(Titik Bawah / Da)
4.4772 / 1020% (Pa)
40.000 mg/kg4.6024 / 1040%
50.000 mg/kg
(Titik Atas / Db)
4.6987 / 1070% (Pb)
60.000 mg/kg4.7789 / 1090%
80.000 mg/kg4.90310 / 10100%

Visualisasi Interpolasi Linier

Log Dosis % Mati Da (20%) Db (70%) Target 50% Log LD50

Kalkulator Analisis LD50 & LD90

Uji coba algoritma perhitungan. Masukkan 2 titik data dosis dan persentase yang secara logika mengapit target yang ingin dicari (50% atau 90%).

% Mati
% Mati
Estimasi Titik LD50
0 mg/kg
Estimasi Titik LD90
0 mg/kg
*Klik tombol Eksekusi untuk melihat langkah logaritma.

Kurva Sigmoid Margin of Safety (Jarak ED50 & LD50)

Kurva dosis-respons untuk efikasi maupun toksisitas populasi selalu membentuk kurva lengkung menyerupai huruf S (Kurva Sigmoid). Semakin lebar jarak "Gap" antara kurva terapi (Hijau) dan kurva kematian (Merah), semakin aman obat tersebut (Margin of Safety Lebar).

Analisis Celah Keamanan

Grafik di samping mensimulasikan perbandingan profil keamanan sebuah obat ideal vs obat dengan batas toksisitas sempit (seperti kloroform).

Interpretasi Grafik Celah Keamanan:

Garis Hijau mewakili Respons Terapi (Tidur/Anestesi) atau ED50. Garis Merah mewakili Kematian (Toksisitas) atau LD50.

Jika jarak horizontal antara kurva hijau dan merah sangat SEMPIT (Berhimpitan), artinya sedikit saja terjadi kesalahan kelebihan dosis (Overdosis) saat memberikan terapi anestesi, konsentrasi gas di dalam tubuh pasien akan langsung melintasi batas LD50 dan menyebabkan kematian mendadak akibat kelumpuhan medula.

Evaluasi Teori

Uji pemahaman analitik Anda tentang rute farmakokinetik gas, stadium anestesi, pengelolaan instrumen ruang tertutup (beaker), dan penguasaan kalkulasi interpolasi dosis letal.