Studi Kasus Klinis PKPA Rumah Sakit
PPA 201 • 8 SKS • Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker • Universitas Esa Unggul
SKS
8
PPA 201 PKPA RS
CPL
7
Capaian Pembelajaran
Topik
50
Klinis / Manajemen / Digital
KKNI
L7
Level Apoteker
Tentang Modul
Modul ini dirancang untuk mahasiswa PSPPA yang menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit. Modul mengintegrasikan kompetensi klinis, manajemen farmasi, dan literasi digital kefarmasian melalui pendekatan studi kasus paralel dengan kegiatan PKPA. Mahasiswa dapat mengangkat kasus nyata dari rotasi sebagai tugas besar yang sekaligus memenuhi syarat penyelesaian studi.
Alur Kegiatan Studi Kasus
1
Identifikasi kasus / topik selama rotasi PKPA
2
Konsultasi dan persetujuan preceptor + dosen
3
Pengumpulan data & analisis berbasis evidens
4
Penulisan laporan sesuai format ilmiah
5
Presentasi dan penilaian akhir PKPA
Distribusi Contoh 50 Topik Kajian
Klinis: 20 topik
Manajemen: 15 topik
Digital Farmasi: 15 topik
Ketentuan Umum
- Studi kasus bersifat opsional namun dianjurkan; dapat menggantikan salah satu komponen tugas besar PKPA
- Topik harus disetujui oleh preceptor RS dan dosen pembimbing sebelum pengumpulan data dimulai
- Untuk kasus klinis, informed consent wajib diperoleh (anonimisasi inisial pasien)
- Laporan diserahkan maksimal 14 hari setelah berakhirnya rotasi terkait
- Presentasi dilakukan di depan tim farmasi RS dan/atau dosen pembimbing
CPL & Indikator Kinerja
Capaian Pembelajaran Lulusan dan Indikator Kinerja MK PPA 201 PKPA Rumah Sakit
Setiap studi kasus harus dipetakan ke minimal satu CPL dan dua Indikator Kinerja (IK) yang relevan dalam formulir proposal.
50 Topik Kajian
Pilih topik berdasarkan kasus yang ditemukan selama rotasi PKPA RS. Topik telah dikelompokkan per unit rotasi dan dilengkapi judul, konsep, serta metode penelitian.
Gunakan tombol salin pada setiap kartu untuk mengambil ringkasan topik lengkap sebagai bahan awal proposal atau konsultasi dengan preceptor.
Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang dapat diterapkan sebagai studi kasus PKPA RS
Panduan Memilih Rancangan
| Jika kasus Anda... | Rancangan yang disarankan |
|---|---|
| Satu pasien unik dengan DRP kompleks | Case Report |
| 3–10 pasien dengan pola serupa | Case Series |
| Evaluasi pola penggunaan antibiotik di satu bangsal | Drug Use Study |
| Kesesuaian peresepan dengan PPK/formularium | Evaluasi Penggunaan Obat |
| Analisis data dari rekam medis periode tertentu | Deskriptif Retrospektif |
| Kajian SIMRS / CPOE / aplikasi farmasi | Evaluasi Sistem Digital |
Contoh Kasus Klinis — SOAP Farmasi
Contoh lengkap laporan case report dengan analisis Drug-Related Problems (DRP)
Data Pasien
| Inisial Pasien | Tn. A.S. | Usia / JK | 62 tahun / Laki-laki |
| No. RM | XXXX-XX (dianonimkan) | Ruang Rawat | Penyakit Dalam / Kelas II |
| Tanggal MRS | 15 Januari 2025 | Tanggal KRS | 22 Januari 2025 (7 hari) |
| Diagnosis Utama | Infeksi Saluran Kemih (ISK) Komplikata | ||
| Komorbid | Diabetes Mellitus Tipe 2 tidak terkontrol, CKD Stadium 3, Hipertensi Grade II, Hipoalbuminemia | ||
Keluhan Utama
Nyeri saat berkemih (disuria), frekuensi berkemih meningkat, urin keruh, demam 3 hari, dan mual sejak 3 hari SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan DM tipe 2 yang tidak terkontrol (HbA1c terakhir 10.2%). Mengeluh disuria sejak 3 hari SMRS disertai demam tinggi hingga 39.2°C dan mual tanpa muntah. Sebelumnya mengonsumsi amoksisilin dari klinik selama 2 hari tanpa perbaikan klinis.
Riwayat Penyakit Dahulu
DM tipe 2 sejak 10 tahun, hipertensi sejak 7 tahun, CKD stadium 3 (eGFR 42 mL/min/1.73m²) terdiagnosis 2 tahun lalu.
Riwayat Obat Sebelum MRS
Metformin 500 mg 2×1, Glimepiride 2 mg 1×1, Amlodipine 5 mg 1×1, Candesartan 8 mg 1×1, Amoksisilin 500 mg 3×1 (2 hari — tidak tuntas).
Alergi
Tidak ada riwayat alergi obat yang diketahui.
Tanda-Tanda Vital saat MRS
Tekanan Darah
158/95
mmHg
Nadi
98
x/menit
Suhu
39.2°C
Febris
RR
20
x/menit
BB / TB
68 kg
168 cm
Data Laboratorium
| Parameter | Hasil | Nilai Normal | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| Leukosit | 14.8 ×10³/L | 4.0–10.0 | Leukositosis |
| Hemoglobin | 10.2 g/dL | 13.5–17.5 | Anemia ringan |
| Kreatinin | 2.1 mg/dL | 0.7–1.2 | Meningkat (CKD) |
| eGFR (CKD-EPI) | 42 mL/min | > 60 | CKD Stadium 3b |
| Glukosa Sewaktu | 318 mg/dL | < 200 | Hiperglikemia |
| HbA1c | 10.2% | < 7% | Tidak terkontrol |
| Albumin | 2.8 g/dL | 3.5–5.0 | Hipoalbuminemia |
| Urinalisis (WBC) | >100/LPB | 0–5/LPB | Piuria berat |
| Kultur Urin | E. coli — resisten ampisilin; sensitif seftriakson & siprofloksasin | ||
Klik setiap kartu untuk melihat analisis lengkap dan rekomendasi apoteker.
DRP 1 Obat tidak efektif — Amoksisilin pada ISK E. coli resisten
Amoksisilin tidak lagi menjadi pilihan untuk ISK komplikata karena tingkat resistensi E. coli terhadap aminopenisilin telah melebihi 20% secara nasional. Kultur urin mengonfirmasi resistensi. Rekomendasi: Stop amoksisilin. Ganti ke Seftriakson 1 g IV q24h (tanpa penyesuaian dosis — eGFR 42 mL/min masih dalam batas aman untuk sefalosporin). Lama terapi 10–14 hari untuk ISK komplikata. Evaluasi kultur 48–72 jam post-antibiotik.
DRP 2 Perlu penyesuaian dosis — Metformin pada CKD Stadium 3 + kondisi akut
Metformin dikontraindikasikan relatif pada eGFR 30–45 mL/min (CKD 3b) dan mutlak saat kondisi akut yang berisiko hipoksia/asidosis laktat. Pada pasien ini, ISK komplikata + hiperglikemia berat + CKD meningkatkan risiko akumulasi laktat. Rekomendasi: Hold metformin dan glimepiride selama fase akut rawat inap. Mulai insulin sliding scale (insulin regular pre-makan) + insulin basal NPH 10 unit malam hari. Target GDS rawat inap: 140–180 mg/dL. Evaluasi restart metformin dosis rendah (500 mg 1×1) saat KRS jika eGFR stabil dan kondisi akut teratasi.
DRP 3 Risiko interaksi/ADR — Candesartan pada CKD akut + hipovolemia relatif
ARB (candesartan) pada pasien CKD yang sedang mengalami infeksi akut dan hipovolemia relatif meningkatkan risiko penurunan fungsi ginjal lebih lanjut (acute-on-chronic CKD). Hipoalbuminemia juga dapat memengaruhi distribusi obat yang terikat protein tinggi. Rekomendasi: Pantau kreatinin dan kalium setiap 48 jam. Pertimbangkan hold candesartan jika kreatinin naik >0.5 mg/dL dalam 48 jam atau muncul hiperkalemia. Lanjutkan amlodipine untuk kontrol tekanan darah.
DRP 4 Kebutuhan terapi tambahan — Koreksi hipoalbuminemia dan nutrisi
Hipoalbuminemia (2.8 g/dL) dapat memengaruhi distribusi dan efikasi antibiotik yang terikat protein tinggi. Kondisi ini juga memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi. Rekomendasi: Rujuk ke tim gizi klinik untuk rencana nutrisi tinggi protein (1.2–1.5 g/kgBB/hari). Pertimbangkan suplementasi albumin intravena jika kadar <2.5 g/dL disertai edema klinis bermakna. Hindari pemberian albumin rutin tanpa indikasi jelas.
Rencana Farmasi Klinis
Monitoring dan Follow-up
Contoh Studi Manajemen — Drug Use Study (DUS)
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Berdasarkan Metode ATC/DDD dan Penilaian Kualitas Gyssens
Judul Penelitian
"Evaluasi Penggunaan Antibiotik di Bangsal Penyakit Dalam RSUD X Periode Januari–Juni 2024 dengan Metode ATC/DDD dan Gyssens"
Latar Belakang
Resistensi antimikroba merupakan ancaman kesehatan global yang salah satunya dipicu oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Drug Use Study (DUS) dengan metode WHO ATC/DDD diperlukan untuk mengevaluasi pola penggunaan antibiotik secara kuantitatif, sedangkan alur Gyssens digunakan untuk menilai kualitasnya. Temuan ini mendasari program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) yang efektif berbasis data lokal rumah sakit.
Metode Penelitian
| Desain | Deskriptif retrospektif cross-sectional |
| Populasi | Pasien dewasa rawat inap bangsal Penyakit Dalam yang menerima antibiotik |
| Periode | Januari – Juni 2024 (6 bulan) |
| Sampel | Total sampling; n = 312 pasien memenuhi kriteria inklusi dari 489 pasien |
| Instrumen Kuantitatif | WHO ATC/DDD Index 2024 — satuan DDD/100 hari rawat |
| Instrumen Kualitatif | Alur Gyssens (kategori 0, I, IIA, IIB, IIC, III, IV, V, VI) |
| Sumber Data | Rekam medis elektronik + laporan penggunaan obat IFRS |
Penggunaan Antibiotik (DDD/100 Hari Rawat) — Bangsal Penyakit Dalam Jan–Jun 2024
Interpretasi Kuantitatif
Seftriakson merupakan antibiotik dengan penggunaan tertinggi (48.3 DDD/100 HR), diikuti siprofloksasin (22.1) dan metronidazol (18.7). Total penggunaan kelompok sefalosporin (63.4 DDD/100 HR) melampaui target indikator mutu PPRA rumah sakit (50 DDD/100 HR). Tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas mengindikasikan perlunya penguatan program antimicrobial stewardship (AMS).
Contoh Kasus ATC/DDD Periodik
Contoh berikut menunjukkan pemantauan ATC/DDD secara periodik per bulan untuk satu antibiotik prioritas. Format ini berguna untuk evaluasi triwulan, rapat PPRA, atau monitoring dampak intervensi stewardship secara berkelanjutan.
Tren Bulanan Seftriakson
| Bulan | DDD/100 HR | Interpretasi |
|---|---|---|
| Januari | 42.1 | Masih sesuai target bangsal |
| Februari | 45.6 | Ada kenaikan ringan |
| Maret | 47.8 | Mendekati batas mutu |
| April | 51.4 | Melewati target PPRA |
| Mei | 49.9 | Turun setelah audit resep |
| Juni | 48.3 | Masih tinggi namun membaik |
Nilai Praktis Kajian Periodik
Deteksi lonjakan diniKenaikan di April memberi sinyal bahwa penggunaan empiris perlu ditinjau sebelum menjadi pola menetap.
Evaluasi intervensiPenurunan Mei–Juni dapat dipakai sebagai indikator awal bahwa edukasi prescriber dan audit antibiotik mulai efektif.
Bahan laporan manajemenData periodik lebih mudah dipresentasikan ke tim PPRA, komite medik, dan pimpinan IFRS dibanding data agregat satu kali.
Distribusi Kategori Kualitas Penggunaan Antibiotik (Gyssens) — n = 312 pasien
Keterangan Kategori Gyssens
Kesimpulan
- Antibiotik terbanyak digunakan adalah seftriakson (48.3 DDD/100 HR) dan siprofloksasin (22.1 DDD/100 HR).
- Penilaian kualitas Gyssens menunjukkan 54.8% penggunaan termasuk kategori 0 (tepat); 45.2% tidak rasional (kategori I–IVC).
- Masalah dominan: durasi terlalu lama (18.9% — Kat. I) dan pilihan antibiotik tidak spesifik (12.5% — Kat. IIA).
Rekomendasi
- Revisi panduan terapi antibiotik berbasis antibiogram lokal yang diperbarui minimal setiap tahun.
- Implementasi program AMS multidisiplin dengan apoteker sebagai anggota aktif tim PPRA.
- Monitoring berkala (triwulan) menggunakan metode ATC/DDD dan Gyssens sebagai indikator mutu IFRS.
- Pelatihan tenaga kesehatan mengenai penggunaan antibiotik berbasis evidens dan resistensi antimikroba.
Formulir Pengajuan Proposal
Isi formulir ini untuk mengajukan topik studi kasus selama PKPA RS
Form Gyssens
Form audit penggunaan antibiotik berbasis kategori Gyssens.
Input Gyssens
Mode tambah entri baru.
Rekap Gyssens
Belum ada entri.
| Tanggal | Unit | Pasien | Antibiotik | Kategori | Catatan | Aksi |
|---|
Form Monitoring Harian
Pencatatan monitoring farmasi harian, intervensi, dan rencana follow-up.
Input Monitoring
Mode tambah entri monitoring baru.
Belum ada entri monitoring.
| Tanggal | Pasien | Parameter | Nilai | Intervensi | Follow-up | Aksi |
|---|
Form SOAP
Penyusunan analisis SOAP, simpan draft, dan ekspor laporan PDF.
Input SOAP
Belum ada draft SOAP.
| Tanggal | Pasien | Diagnosis | Status | Penyusun | Aksi |
|---|
Form Analisis ATC/DDD
Pencatatan analisis kuantitatif penggunaan obat berbasis metode WHO ATC/DDD.
Input Analisis ATC/DDD
Masukkan total pemakaian yang sudah dikonversi ke satuan standar WHO ATC/DDD.
Gunakan satuan referensi WHO untuk obat tersebut, misalnya gram, unit, IU, mg, mcg, atau mL.
Masukkan nilai DDD WHO dalam satuan standar yang sama, misalnya 2 gram atau 1000 unit.
Gunakan total patient-days pada periode analisis.
Total DDD
0.00
DDD/100 Hari Rawat
0.00
Mode tambah entri ATC/DDD baru.
Rekap Analisis ATC/DDD
Belum ada entri ATC/DDD.
| Periode | Unit | Obat | Kode ATC | Pemakaian Total | Total DDD | DDD/100 HR | Catatan | Aksi |
|---|
Save/Upload File Kerja
Kelola export/import file kerja dan backup PDF agar dapat dikerjakan lagi di masa depan.
Pengelolaan File Kerja
Format file kerja: JSON. Berisi seluruh data proposal, Gyssens, monitoring, ATC/DDD, dan SOAP draft.
Rubrik Penilaian
Kriteria penilaian laporan studi kasus klinis dan manajemen PKPA RS
Nilai akhir = Laporan Tertulis (60%) + Presentasi Oral (40%). Nilai minimum kelulusan: B (70).
| Komponen | A (85–100): Sangat Baik | B (70–84): Baik | C (56–69): Cukup | Bobot |
|---|
| Komponen | A (85–100): Sangat Baik | B (70–84): Baik | C (56–69): Cukup | Bobot |
|---|
| Komponen | A (85–100): Sangat Baik | B (70–84): Baik | C (56–69): Cukup | Bobot |
|---|